Kapal Theseus

jika setiap sel tubuhmu diganti apakah kamu masih orang yang sama

Kapal Theseus
I

Coba kita ingat-ingat lagi foto kita sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Gaya rambut yang mungkin sekarang bikin kita tersenyum malu, selera musik yang jauh berbeda, atau cara kita menertawakan hal yang receh. Kita sering bergumam, "Wah, aku udah berubah banget, ya." Tapi, seberapa jauh sebenarnya kita sudah berubah? Pernahkah kita memikirkan hal ini secara harfiah? Secara fisik? Di sinilah saya mau mengajak teman-teman mundur ribuan tahun ke belakang, ke sebuah dermaga imajiner di Yunani Kuno. Ada sebuah teka-teki filsafat legendaris bernama Kapal Theseus. Bayangkan sebuah kapal kayu yang gagah. Seiring berjalannya waktu saat mengarungi lautan, papan kayunya lapuk, tiangnya patah, dan layarnya robek. Perlahan-lahan, setiap bagian yang rusak dicabut dan diganti dengan yang baru. Hingga bertahun-tahun kemudian, tidak ada satu pun komponen asli dari kapal pertama yang tersisa. Pertanyaannya: apakah itu masih Kapal Theseus yang sama? Atau itu adalah kapal yang sama sekali baru? Sekarang, mari kita ganti kata "kapal" dengan "tubuh kita".

II

Mari kita bicara fakta biologisnya yang sesungguhnya. Tubuh kita ini sebenarnya bekerja mirip sekali dengan kapal tadi. Tanpa kita sadari, kita sedang melakukan proses maintenance besar-besaran setiap detiknya. Sel-sel kulit kita mengelupas di bantal dan pakaian kita, lalu diganti dengan sel yang sama sekali baru setiap beberapa minggu. Sel darah merah kita punya masa hidup sekitar empat bulan sebelum akhirnya kehabisan tenaga dan didaur ulang. Bahkan sel tulang yang terlihat sangat padat dan permanen itu terus-menerus merombak dirinya sendiri. Dalam siklus sekitar sepuluh tahun, kerangka yang menopang tubuh kita pada dasarnya adalah kerangka yang baru. Secara seluler, tubuh saya yang sedang menulis artikel ini, sebagian besar materialnya tidak sama dengan tubuh saya satu dekade lalu. Begitu juga dengan teman-teman yang sedang membaca tulisan ini. Kalian secara harfiah adalah tumpukan sel yang baru. Fakta hard science ini sering kali bikin kita merasa merinding sekaligus takjub. Kalau fisik kita terus-menerus dibongkar pasang dan diganti selnya, lalu di mana letak "aku" yang sebenarnya? Jika hardware-nya sudah diganti hampir semua, apakah software-nya tetap utuh?

III

Tentu, insting pertama kita akan menjawab, "Tubuh boleh berubah, tapi yang bikin aku tetap aku adalah ingatanku, pikiranku, dan kepribadianku." Logika ini sangat masuk akal. Secara neurosains, sel-sel saraf di otak kita, atau neuron, adalah pengecualian. Sebagian besar neuron di area otak tertentu tidak membelah atau mengganti dirinya secepat sel kulit. Mereka menemani kita seumur hidup. Jadi, mungkin di situlah letak "diri" kita bersembunyi, terkunci rapi di dalam laci memori jaringan neuron tersebut. Tapi tunggu dulu, mari kita lihat apa kata psikologi kognitif. Psikologi punya kabar buruk buat kita yang terlalu mengandalkan ingatan. Memori kita ternyata tidak bekerja seperti file video yang disimpan di hard drive komputer. Setiap kali kita mengingat sebuah momen sedih atau bahagia di masa lalu, kita sebenarnya tidak sedang memutar ulang rekaman aslinya. Otak kita justru merekonstruksi ulang ingatan tersebut dari potongan-potongan informasi. Dan celakanya, setiap kali direkonstruksi, ingatan itu sangat rentan dimodifikasi oleh mood atau emosi kita saat ini. Para ilmuwan menyebut fenomena ini memory reconsolidation. Ingatan kita bisa memudar, dramatisasinya bertambah, bahkan otak kita bisa menciptakan ingatan palsu tanpa kita sadari sama sekali. Misteri ini makin dalam. Kalau material tubuh kita terus berganti, dan ingatan kita ternyata hanyalah ilusi rapuh yang terus diedit ulang, lalu apa yang menjahit keberadaan kita dari bayi hingga dewasa?

IV

Jawabannya ternyata bukan terletak pada benda-nya, melainkan pada pola-nya. Mari kita tinggalkan sejenak Kapal Theseus dan beralih mengamati gelombang ombak di lautan. Saat sebuah ombak bergerak menuju pantai, molekul air di dalamnya terus berganti setiap detik. Air yang membentuk ombak di tengah laut sama sekali tidak sama dengan molekul air yang akhirnya pecah di pasir pantai. Tapi kita tetap melihatnya sebagai satu ombak yang berkesinambungan. Kenapa? Karena ombak bukanlah kumpulan molekul air itu sendiri; ombak adalah energi dan pola yang bergerak menembus air. Hal yang sama persis berlaku untuk manusia. Kesadaran atau "diri" kita adalah sebuah emergent property—sebuah fenomena kompleks yang lahir dari interaksi ritmis miliaran sel. Kita bukanlah papan kayu di Kapal Theseus. Kita adalah rancangannya, tujuannya, dan sejarah perjalanannya. Dalam psikologi naratif, identitas kita terbentuk dari cerita yang terus kita rajut secara aktif di dalam kepala. Walaupun sel-sel berganti dan memori bergeser, koneksi antar neuron (sinapsis) kita terus menyesuaikan diri membentuk pola kebiasaan yang khas. Kita adalah sebuah proses yang sedang berlangsung. Kita bukanlah sebuah kata benda yang statis menumpuk debu, kita adalah kata kerja yang terus bergerak.

V

Pada akhirnya, menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar utuh secara permanen—baik secara biologis maupun psikologis—bukanlah sesuatu yang harus memicu krisis eksistensial. Memahami hal ini justru sangat membebaskan dan melegakan. Pernahkah kita merasa terkurung dalam bayang-bayang masa lalu? Merasa bersalah atas kebodohan bertahun-tahun lalu, atau merasa rendah diri karena pernah gagal parah? Kapal Theseus dan biologi modern memberi kita izin mutlak untuk move on. Tubuh kita yang bernapas sekarang, secara harfiah bukanlah tubuh yang membuat kesalahan itu di masa lalu. Pikiran kita yang sekarang sudah belajar dari jaringan ingatan yang terus memperbarui diri. Kita memiliki hak prerogatif secara ilmiah untuk menjadi versi yang lebih baik dan memaafkan diri sendiri. Jadi, apakah teman-teman masih orang yang sama dengan sepuluh tahun lalu? Tidak. Kalian sudah berubah menjadi manusia yang baru. Kayu-kayu yang lapuk itu sudah dibuang secara alami, diganti dengan yang lebih tahan banting. Kita tetaplah nakhoda dari kapal kehidupan ini, hanya saja sekarang kita berlayar dengan pemahaman yang baru. Mari kita rayakan perubahan itu, satu sel baru di setiap detiknya.